Informasi yang kamu cari

Rabu, 25 Februari 2015

Anak Presiden yang Menikahi Anak PKL

              Suatu hari Khalifah Ummar Ibn Khotob berjalan-jalan di gelap malam bersama para ajudannya. Untuk apa? Seperti biasa, sang Presiden negeri Muslimin pada saat itu ingin mengetahui keadaan rakyatnya. Setelah berjalan beberapa saat sang Presiden terhenti di depan suatu rumah. Rupanya sang Presiden mendengar ada percakapan dari dalam rumah tersebut.
                Rumah itu adalah milik seorang penjual susu yang memiliki seorang putri. Berikut kira-kira isi percakapan antara ibu dan putrinya tersebut.

Ibu :”wahai anakku, sebaiknya kau campur saja susu ini dengan air agar kita mendapat untung yang lebih.”
Anak :“Mohon maaf ibu, tapi Umar sudah mengumumkan di Pasar, bahwa susu tidak boleh dicampur dengan air.”
Ibu :”Tapi umar tidak akan tau”
Anak :”Tapi Tuhannya Umar maha tau ibu”

                Umar merasa sangat kagum dengan keteguhan hati dan keimanan putri dari sang penjual susu. Umar pun menyuruh ajudannya untuk menandai rumah tersebut. Umar dan ajudannya segera pulang.

Keesokan harinya, Umar Ibn Khotob mengumpulkan seluruh anak-anaknya. Kemudian Umar menceritakan kejadian pada malam itu. Tentang seorang remaja putri solehah anak penjual susu yang rumahnya telah ia tandai. Umar bertanya kepada para putranya, adakah diantara putranya ada yang ingin menjadikannya Istri? Segera saja Asim Ibn Ummar berdiri dan menyatakan keinginannya untuk memperistri wanita solehah tersebut. “Wahai ayah, di antara anak-anakmu akulah yang belum menikah, maka aku ingin untuk menikahinya.” Umar merasa senang karena ada di antara anaknya yang mengambil kesempatan ini.

Maka pernikahan pun dilangsungkan. Ummar ibn al Khotob sang pemimpin, presiden negeri telah berbesan dengan seorang tukang susu. Ummar tidaklah memandang pada harta atau kedudukan besannya di masyarakat. Tapi keimanan sang anak tukang susulah yang telah menarik hati sang presiden. Ummar yakin, untuk melahirkan generasi emas perlu sosok beriman dan jujur seperti yang ada pada menantunya.

Benar saja, setelah menikah dengan putri solehah tersebut Asim ibn Umar dikaruniai seorang anak yang tak kalah solehahnya dengan sang ibu. Dialah Laila binti Asim yang kelak dipersunting Abdul Aziz bin Marwan. Dari hasil perkawinan itu lahirlah sang pemimpin adil dan bijaksana yang berhasil memakmurkan rakyatnya dalam 2,5 tahun: Ummar Ibn Abdul Aziz. Lihatlah bagaimana perkawinan yang didasari keimanan dan akhlak akan melahirkan generasi yang cemerlang. Pernikahan antara putra Presiden dan putri penjual susu yang solehah telah menurunkan generasi yang hebat. Karena pernikahan mereka di dasari keimanan dan akhlak. Karena Ummar sang Presiden telah memilih istri terbaik untuk anaknya. Istri yang beriman. Istri yang berakhlak.

Wallohu a'lam bi showaab


(Disarikan dari kisah “Kholifah Trans7; Eps. Generasi Umar Ibn al-Khotob” oleh: Izzkir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar