Informasi yang kamu cari

Senin, 22 Desember 2014

PENTINGNYA JURU KUNCI (KUNCEN) DIKALANGAN MASYARAKAT JAWA

PROLOG
Kraton Yogyakarta sesungguhnya memiliki banyak juru kunci, namun demikian harus diakui bahwa yang paling fenomenal hingga saat ini adalah Mbah Maridjan, abdi dalem yang di baptis bin di bai’at  sebagai juru kunci Gunung Merapi sejak tahun 1982 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Sebagai sebuah Kraton yang dibangun berdasarkan sumbu imajiner nan filosofis, Yogyakarta memilik tiga titik utama yang tak terpisahkan, yakni Gunung Merapi, Kraton dan terakhir Pantai Selatan. Itu artinya, satu tokoh kunci penting lain masih hidup  hingga sekarang.  Siapakah dia ? Tak lain adalah Juru kunci yang mengemban amanat tradisi kraton dengan area wilayah laut selatan.
Syahdan, jika Gunung Merapi di huni oleh tokoh gaib raja raksasa api bernama Eyang Mrapen a.k.a Mbah Petruk, maka tokoh gaib yang ada di laut selatan sudah tidak asing lagi bagi kita : Kanjeng Ratu Kidul ( meski yang lebih populer sesungguhnya justru wakilnya sendiri (Patih) yang bernama Nyai Roro Kidul )
Dalam kacamata kebatinan Jawa, sesungguhnya almarhum Mbah Maridjan selama ini bukan menyembah gunung seperti yang di plintir oleh kaum radikal anti tradisi, namun melakukan dialog dalam versi kebatinan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang super pasrah, polos dan tulus  macam Mbah Maridjan terhadap sesuatu yang tak kasat mata.  Menyembah, dalam tradisi jawa artinya memberi hormat. Hal ini jelas tidak ada hubungannya dengan memuliakan. Mungkin kita semua sepakat, bahwa memberi hormat merupakan kebiasaan yang baik untuk dilakukan.
Dalam tradisi Kraton Yogya, setiap abdi dalem yang mengemban tugas sebagai juru kunci biasanya diberi gelar  “Surakso” yang berarti : Penjaga. Sebagai contoh, nama aslinya adalah Maridjan, namun setelah diangkat sebagai juru kunci namanya berubah menjadi  Raden Penewu Surakso Hargo. “Raden Mas Ngabehi Penewu” merujuk pada nama kebangsawan kraton, “Surakso” merujuk pada fungsi kerja, “Hargo” merujuk pada obyek kerja. Hargo dalam bahasa jawa artinya ” Gunung”.
” Kenapa harus ada Penjaga Gunung ? ” . Bagaimana kalau pertanyaan ini kita persamakan dengan ” kenapa harus ada pencinta alam ? “. Dulu sering sekali kaum radikal anti tradisi sering nyinyir mengolok-olok teman-teman pecinta alam dengan kata-kata konyol  ” alam kok dicintai, cinta tuh pada Allah, jangan cinta sama alam ! ” Di tahun 60-an,  Soe Hok Gie dan komunitas Mapalanya sangat kenyang dengan olok-olok macam ini.  Beruntung kawan-kawan komunitas Pecinta Alam hingga saat ini tidak terlalu menggubris cibiran-cibiran kurang berpendidikan seperti itu sehingga tugas melindungi alam dari kehancuran domestik manusia tetap ada yang menjalankannya.
Tugas mbah maridjan dan juru kunci lain tak beda jauh dengan apa yang dilakukan para pecinta alam sekarang.  Mbah Maridjan dalam sebuah tayangan TV mengakui bahwa tugasnya adalah tukang sapu gunung. Membersihkan sekitar gunung Merapi dari sampah-sampah yang dibuat para pengunjung secara tidak bertanggung jawab.  Selain tugas fisik, tugas spiritualnya adalah sebagai wakil kraton yogya dalam menjalin komunikasi batin dengan seluruh energi dan unsur tak kasat mata yang melingkupi area gunung merapi. Tentu saja komunikasi batin yang dilakukan menggunakan cara-cara jawa, (bukan cara-cara cina atau cara-cara afrika).
Kini, sepeninggal Mbah Maridjan, juru kunci pantai selatan seakan merasa timpang sebelah. Sumbu imajiner Yogyakarta seakan begitu berat di topang meski sama sekali tak mengurangi militansinya mengemban amanah. Beliau memang tak sepopuler Mbah Maridjan meski gaji bulanan yang diterimanya dari Kraton sama dengan rekan sejawatnya itu yakni :dibawah sepuluh ribu rupiah. RADEN  PENEWU SURAKSO TARWONO atau yang biasa dipanggil akrab MBAH NONO agaknya punya watak pengabdian yang tak jauh berbeda dengan Mbah Maridjan.  Selama perintah belum dicabut oleh almarhum Sri Sultan HB IX, mbah Nono tak akan pernah berpindah dari pos penjagaannya walau badai dan tsunami besar menghantam dahsyat.

Mengenai keberadaan juru kunci, utamanya yang berada dikalangan masyarakat jawa, memang banyak menimbulkan pro dan kontra. Pihak yang kontra atau kurang setuju dengan adanya kuncen ini biasanya beralasan karena praktik-praktik para kuncen ini yang kelihatan tidak sejalan dengan ajaran atau nilai-nilai dalam Agama Islam. Kita bisa melihat bagaimana para kuncen –dalam prosesi doa/acara mereka- mempersembahkan ayam atau kepala kambing dan kerbau yang ditujukan pada penguasa tempat yang mereka jaga (gunung, laut, pemakaman dsb.), tak lupa kemenyan dibakar yang menambah sakral keadaan saat upacara berlangsung, ditemani kembang tujuh rupa, doa-doa dalam bahasa jawa pun mulai dilantunkan. Si kuncen (juru kunci) dan warga pengikutnya berharap, dengan upacara dan persembahan yang mereka berikan, sang penguasa dari alam lain (jin, siluman, demit) tempat itu tidak akan ngamuk dan menjatuhkan celaka pada mereka. Terkadang pada bulan-bulan tertentu, mereka juga menggelar acara-acara khusus seperti upacara panen, ruatan dan lain-lain di tempat-tempat yang mereka anggap sakral. Dalam upacara-upacara seperti ini pun, sang juru kunci wajib diikut sertakan. Nah, hal-hal semacam ini memang dikhawatirkan oleh sebagian ulama dapat menjurus pada kesyirikan, karena masyarakat seperti ini terkesan menyembah dan meminta keselamatan pada selain Allah. Sedangkan Islam hanya percaya pada satu Illah, dan hanya Allah lah yang kuasa memberi manfaat ataupun menjatuhkan kemudaratan pada sekalian makhluk.
Pendapat yang mendukung kegiatan para kuncen, biasanya datang dari kalangan budayawan, penggiat HAM ataupun para ulama yang lebih liberal. Mereka menganggap apa yang dilakukan oleh  para kuncen adalah bagian dari budaya dan kearifan lokal yang harus dilestarikan. Selain itu, tidak dapat kita pungkiri peran dari seorang juru kunci di tengah masyarakat jawa yang terus berkembang sangatlah penting. Kata-kata mereka dipercaya dan dituruti oleh masyarakat, sehingga segala larangan dan anjuran mereka biasanya akan menjadi semacam aturan tidak tertulis di antara masyarakat setempat. Hal ini terbukti sangat efektif untuk mencegah terjadinya kerusakan pada tempat-tempat yang mereka jaga. Seperti pencemaran sungai, perambahan hutan dan pencurian benda-benda bersejarah. Masyarakat jawa mayoritas masih percaya dengan mitologi-mitologi yang diceritakan oleh juru kunci. Misalnya seorang juru kunci berkata agar di daerah itu tidak boleh menebang pohon atau tidak boleh berkata kotor, maka orang-orang yang percaya tidak akan berani melakukan hal-hal semacam itu karena takut terkena kesusahan atau kesialan.
Kalau kita lihat memang tradisi yang dijalankan para kuncen ini masih dipengaruhi secara kuat oleh budaya-budaya sebelum Islam. Meski bisa dikatakan mayoritas juru kunci di tanah Jawa adalah muslim. Tapi mengapa para Wali Sembilan (wali songo) sebagai penyebar Islam di tanah Jawa tidak melarang (membiarkan) kegiatan para kuncen ini? Apakah dalam agama Islam tidak ada doa penolak bala yang bisa dilafalkan oleh para juru kunci?
Pada awal mula penyebaran Islam, perubahan kebiasaan atau tradisi-trsdisi lama tidak dapat dirubah secara cepat, karena bisa menimbulkan ketegangan dan pertentangan. Para wali songo lebih banyak menyuntikan nilai dan tradisi Islami kedalam tradisi setempat yang sudah ada agar dapat terjadi akulturasi. Pada awal  masuknya Islam, pembangunan kesadaran beragama lebih diutamakan. Yang jelas akulturasi ini menunjukan keberhasilan yang nyata, terbukti dengan diterimanya Islam dengan perdamaian hingga saat ini. Di dalam ajaran agama Islam pun banyak sekali doa yang diajarkan Rasulullah ataupun ciptaan dari para ulama, namun masuknya juru kuncen pada Agama Islam masih lebih dipentingkan dari pada memaksaan doa secara Islami namun hanya menimbulkan kebencian dan permusuhan.
Pada konteks kekinian, kiranya peran juru kunci dikalangan masyarakat Jawa memang tidak dapat digeser. Mengingat banyak peran penting yang diemban oleh seorang juru kunci. Yang perlu diluruskan adalah praktek/cara ia berdoa dan tata cara ia menggelar upacara. Umat harus disadarkan bahwa hal-hal yang menjurus pada kesyirikan haruslah ditinggalkan. Boleh saja mereka menggelar upacara-upacara tertentu bersama juru kunci tapi itu sebatas upacara kebudayaan dan tidak boleh dibumbui dengan keyakinan-keyakinan pada selain Allah. Inilah tugas para ulama masa kini. Di zaman wali songo telah diletakan dasar-dasar ke Islaman, ulama sekarang tinggal mengembangkan dan menyempurnakan saja. Tentunya butuh waktu cukup panjang untuk mereproduksi budaya yang telah melekat ditengah masyarakat, namun seiring dengan kegigihan dan waktu yang terus berjalan, hal ini sangatlah mungkin untuk dilakukan.

Oleh                            : Ahmad Kopi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar