Informasi yang kamu cari

Senin, 22 Desember 2014

Sepenggal Tentang "Aku"


siapa aku?
Aku adalah seorang pemuda yang terlahir dua puluh tahun lalu di sebuah desa kecil di lereng gunung Slamet, Pemalang, Jawa tengah. Aku ini anak pertama dari tiga bersaudara. Di tengah kampong kecil aku terlahir, meski demikian aku memiliki keluarga besar, karena embah-ku dari ibu punya 15 orang anak, sedang embah-ku dari ayah punya 10 anak, jadi paman dan bibiku saja ada 23 orang, belum lagi ditambah sepupu2ku, saudara jauh, sanak family, dan para tetangga, jadi bisa dibayangkan ketika aku lahir orang tuaku mendapat sumbangan yang cukup lumayan. Sumbangan? Ya, “sumbangan”, sudah jadi tradisi di kampungku kalau ada jiwa baru yang terlahir ke dunia ini, maka manusia-manusia yang terlahir lebih dulu akan memberi sumbangan sebagai ucapan turut berbahagia. Bukan Cuma uang yang mereka bawa, biasanya agar lebih tepat guna mereka memberi sabun cussons baby, bedak, rinso, popok kain, baju bayi, kain “jarit” bercetak batik, sampai sarimie dan biscuit roma pun ada (yang terakhir ini bukan buat sang bayi tentunya). OK. Aku rasa sudah cukup cerita kelahiranku sebagai Muqadimah tulisan ini. Selanjutnya, sesuai amanah dari dosen, aku akan bercerita mengenai keluarga, sekolah dan masyarakat di sekitarku, kaitannya dengan pendidikan dan Agama.
Berbicara mengenai keluarga, sebenarnya latar belakang keluargaku tidak terlalu spesial. Ayahku hanya tamatan Mts, sedang ibuku hanya tamatan S1 D1 alias SD, pendidikan Agama yang mereka peroleh mayoritas berasal dari mengaji pada pak ustad di kampungku yang rata-rata lulusan pesantren. Selain itu, ayah ku ikut tarekat Sathariyah, sesuai tarekat yang dianut ayahnya, ibuku pun “nunut” jejak ayah, meski embah-ku yang dari ibu sebenarnya orang tarekat Qadhiriyah. Memang sudah menjadi kenyataan ketika aku mulai mengenal dunia, bahwa mayoritas masyarakat di kampung halamanku adalah penganut Islam yang bercorak sufistik (mistitisme/tarekat). Aku tidak tau secara pasti sejarah kehadiran tarekat di kampungku tapi yang jelas, model pengamalan agama bercorak seperti ini sangat diterima di kampungku. Bahkan, Adik dari ayah ibuku adalah seorang pemimpin tarekat Qadiriyah di kampungku yang biasa di panggil pak kiyai, mursyidnya sendiri adalah seorang ulama di daerah Cirebon. Meski mengamalkan ajaran-ajaran tarekat, tapi orang tua dan keluargaku tak pernah memaksaku untuk mengikuti jejak mereka. Perlu diketahui pula, bahwa mayoritas masyarakat di kampung halamanku adalah Nahdliyin (masyarakat yang beraviliasi ke Nahdlatul Ulama).
Semasa kecil, pendidikan agamaku dipercayakan orang tuaku pada ustad-ustad dikampungku yang mayoritas (kalau tidak semuanya) masih berhubungan darah denganku. Mereka adalah para lulusan pesantren nan jauh dari kampungku. Selesai “mondok” mereka akan mengabdi bagi kampungnya dengan membuka pengajian-pengajian bagi anak dan pemuda setempat. Selain belajar membaca Al-Qur’an, kami juga mengaji kitab seperti sulamutaufiq, ta’limul mutaalimin hingga qurratul uyyun bagi yang sudah dewasa. Selain itu, ijazah madrasah juga aku dapatkan melalui Madrasah Diniyah Awaliyah yang dibuka di kampungku oleh lembaga Ma’arif NU. Di- Madrasah ini, pengajarnya juga dari ustad-ustad yang membuka pengajian non formal ditambah beberapa ustad muda yang baru selesai “mondok” di “pondokan” milik NU. Materi Pelajaran yang diajarkan menjadi lebih kompleks, dari fiqih, Nahu-sorof, ke-NU-an hingga SKI (Tarikh) pun ada.
Sewaktu kecil, selain mengaji, sekolah dan bermain, aku sering pula disuruh oleh ayah untuk menggantikannya pergi ke acara Tahlilan rutin yang diadakan tiap habis jum’atan, bergiliran dari rumah ke rumah tiap anggotanya. Dalam tahlilan ini, biasanya diawali tawasul, selain pada Allah, Rasulullah, Sahabat, Tabiin, tabitabiin, alim ulama, habaib, juga pada para imam (mursyid) Tarekat, yang biasanya bersambung hingga Rasulullah saw., Jibril as., dan berakhir kepada Allah swt. Setelah itu dilanjutkan prosesi Yasinan, Tahlilan, doa dan diakhiri dengan makan-makan. Selain itu, rokok, adalah sajian wajib yang mesti ada saat acara Tahlilan, karena mayoritas anggota Tahlilan adalah perokok. Melalui tahlilan ini pula, biasanya  warga dan tokoh kampung membicarakan masalah-masalah dan isu-isu terbaru baik dalam maupun luar kampung, dari dalam hingga luar negeri. Selain mendekatkan aku dengan masyarakat, banyak sekali manfaat yang bisa aku peroleh melalui acara ini.
Sedangkan pengetahuan umum aku dapatkan melalui pendidikan  dasar dan menengah yang aku selesaikan di SD dan SMP negeri yang letaknya lumayan jauh dari rumahku. Selain pengetahuan yang ku peroleh, Melalui sekolah umumlah (terutama SMP) aku mendapat pengalaman baru bergaul dengan kawan selain NU, terutama teman yang orangtuanya Muhammadiyah. Akupun mulai mendapati beberapa perbedaan dalam pengamalan ibadah. Seperti soal Qunut dan Tahlilan. Sebelumnya aku memang sudah sering mendengar mengenai Muhammadiyah, namun lebih banyak hal negative yang aku dengar. Paham mereka dianggap tidak benar oleh orang kampungku yang 100% NU.
Soal ke-Islaman, Selain dari masyarakat dan sekolah/madrasah, aku banyak mendapat pengaruh dan teladan dari kedua orang tuaku, karena beliau termasuk orang yang sangat taat menjalankan dan menunaikan ibadah pada Allah swt. Meski pengetahuan mereka tentang Agama hanya di dapat dari ustad-ustad dan kiyai kampung. Tapi melalui didikan dan dorongan mereka pula lah, apa yang ku dapat di Madrasah, sekolah dan pengajian, sedikit banyak dapat ku amalkan.

Selepas SMP, aku pindah dan melanjutkan SMA di Kota Tangerang, provinsi Banten. Berhijrah dari kehidupan kampung yang asri dan bersahaja menuju gemerlapnya nyala kehidupan perkotaan. Meski menjalani hidup di perkotaan, segala pengalaman hidup yang pernah ku jalani di kampung, nyatanya masih tetap membekas. Ilmu, pengalaman, nasihat dan pelajaran dari kampung, telah membangun pondasi tersendiri dalam jiwaku, meski ragaku, toh harus beradaptasi juga dengan indahnya perkotaan. Kini ku jalani hari-hari dengan menimba ilmu di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan pendidikan Agama Islam yang aku tekuni, meski sama sekali tak memiliki latar belakang pesantren, tapi dengan kuasa Allah dan segala yang diajari orang tua, sekolah dan kampungku, nyatanya telah mampu mengantarkan hidupku hingga ke titik ini. Syukur, hanya itu yang ku ucapkan. (AMIQ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar