Informasi yang kamu cari

Rabu, 26 Agustus 2015

Lokasi Walimatul 'Ursy Tomy dan Iiz

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Puji tiada terkira bagiNya, Zat penuh cinta yang senantiasa mengasihi hambaNya meski hamba itu beriman maupun durhaka. Maka Dialah yang pantas mendapat gelar Sang Maha Mencinta.
Maka bacalah ayat cintaNya yang begitu indah:

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya”
(Al-A’raf 189)


Sholawat serta salam senantiasa tercurah bagi Rosululloh Saw. Sang utusan yang sangat amanah, Seorang raja yang amat adil, seorang suami yang sangat romantis pada istrinya, Imam rumah tangga yang senantiasa menjadi uswatun hasanah, seorang kakek yang amat lemah lembut pada cucu-cucunya, sang komandan perang yang gagah perkasa dan masih banyak lagi kehebatan beliau yang tak bosan untuk didengarkan. Maka dengarkanlah nasihat indahnya:


“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)


Dengan penuh kerendahan hati, kami bermksud mengundang sahabat sekalian dalam Walimatul 'Ursy kami yang InsyaAlloh akan dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2015. Lokasi walimah di jl. K.H. Abdulloh, rt 01/rw 09, Karang Tengah, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.


Untuk memudahkan, sahabat sekalian bisa langsung mengklick lokasi di gmaps berikut:

http://goo.gl/maps/VNqen

Nah, bila kamu berkendara melewati jalan tol, keluarlah di pintu tol Cakung Timur. Kemudian lurus terus sampai bertemu plang "Babek TNI", belok kanan menuju arah "Babek TNI" (bukan putar balik ke jalan CaCing). Lurus terus hingga bertemu pesantren putri al-Wathoniyah (kandang sapi), terus menuju SMP 200, lurus terus sampai bertemu jembatan BKT (di jembatan InsyaAlloh sudah ada janur kuning), terus masuk jalan K.H. Abdulloh (masjid jami' Attaqwa) karang tengah.

Bagi yang menggunakan kereta Commuterline, turunlah di stasiun Kranji, lalu naik angkot no. 30, turun di depan KFC Harapan Indah, lanjut naik Ojek ke lokasi.

Bila menggunakan angkutan umum, berhentilah di terminal Pulogadung (misal kalau dari ciputat ada bus 512 ciputat-pulogadung), lalu sambung naik angkot No. 28 (bila naik sebelum jam 3, bisa minta turun di lokasi walimah). Bila naik lebih dari jam 3, turunlah di SMP 200, lalu lanjut naik ojek ke lokasi walimah. Bila naik Busway, turunlah di halte Harapan Indah, lanjut naik ojek ke lokasi walimah.

Demikian semoga panduan ini bermanfaat. Besar harapan kami sahabat sekalian bisa hadir dan mendoakan kami pada acara Walimatul 'Ursy.

Dari Kami yang Berbahagia

Iiz dan Tommy

Sabtu, 01 Agustus 2015

Islam Nusantara

Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu. Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik. Kalau saja Wali Songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini.
Inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini dan mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.
Indonesia itu tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua. Intinya cuma satu: MEMECAH BELAH NKRI.
Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk. Ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkret. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet.
Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada aqidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya Arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.
Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN)/ IslamNUsantara.
Selengkapnya: http://www.elhooda.net/2015/07/
habib-luthfi-islam-nusantara-tetap-berpijak-pada-aqidah-tauhid-yang-dibawa-rasulullah/
# MuktamarNU # IslamNUsantara

Kamis, 28 Mei 2015

Tentang Pornografi Anak

Copy paste, izin posting ulang...

SELAMATKAN SATU ANAK, SELAMATKAN KEMANUSIAAN
[Ajakan Elly Risman kepada Orang Tua Cerdas Indonesia]

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Oleh : Yayasan Kita dan Buah Hati
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Marak tersebar link video yang menunjukkan adegan dewasa yang diaktori anak-anak. Anak laki-laki dalam video tersebut diperkirakan kelas 1 SD dan anak perempuannya kelas 2 atau 3 SD.

Dalam grup-grup diskusi di Facebook maupun Whatsapp pun, laporan mengenai kasus perilaku anak-anak yang beradegan dewasa terus berdatangan.

Tak perlu media massa menyiarkan, kejadian itu seakan sudah ada di lingkungan rumah kita. Bahkan bisa dikatakan hampir semua dari kita sudah tau kejadian ini.

Bagaimana tidak? Populasi gadget di Indonesia 30 juta lebih banyak dari populasi manusianya.

Jika dulu orang yang ingin melihat konten tidak patut perlu membeli majalah di ujung gang, kini pebisnis porno di internet yang memburu anak kita masuk ke dalam kamarnya, dengan layar gadget menjadi “pintu kemana saja”.

〰〰〰〰
Menurut Ayah Bunda, darimana munculnya minat anak-anak melakukan adegan tersebut? Bukankah saat kita lulus TK, kita sedang berminat menyusun kata dan menulis angka?

Otak anak masih dalam tahap meniru dan bereksplorasi. Otaknya yang belum sempurna bersambungan membuat anak melakukan sesuatu berdasarkan dorongan keinginan, bukan pemikiran apalagi pertimbangan konsekuensi.

Jadi, ketika ia melakukan adegan orang dewasa, yang ia coba dan ia tiru SUDAH PASTI berasal dari matanya : apa yang ia lihat.

Bahkan pada link video yang tersebar, jelas terdengar anak-anak itu diarahkan orang dewasa sedangkan anak-anak itu terlihat melakukannya dengan suka rela.

Ada apa ini? Mungkinkah anak-anak itu juga DIJADIKAN KOMODITI? Apakah ada yang mengambil keuntungan dari hancurnya anak-anak kita sejak usia dini?

Yang perlu kita ketahui adalah Child Pornography merupakan ‘narkoba’ level tertinggi bagi pecandunya yang sudah sakau berkali-kali. Harga jualnya paling mahal dalam bisnis mereka.

Kejadian demi kejadian terjadi bersamaan dengan pemerintah kita yang sedang berbenah. Yuk kita sebagai orangtua dan warga negara, aktif menyuarakan bahwa #IndonesiaDaruratPornografi

Ajarkan juga hal dibawah ini pada anak kita :
1⃣jelaskan tentang aurat sejak usianya 3 tahun
katakan padanya ada bagian tubuh yang tidak boleh terlihat oleh siapa-siapa kecuali oleh diri sendiri. Bagian tubuh itu adalah KEMALUAN.
Mengapa disebut kemaluan? Karena malu jika terlihat orang lain. Kita juga malu ketika melihat kemaluan orang lain.
Jangankan menyentuh dan disentuh, melihat pun tidak boleh. Haram hukumnya.
Ayah Bunda jelaskan pada anak kita dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, apa yang dimaksud dengan haram.
Oleh karena itu pula, Ayah Bunda harus memastikan anak kita sudah bisa membersihkan dirinya ketika buang air.
Sejak ia bisa bicara, selalu MEMINTA IJIN ketika akan memakaikan baju maupun menggantikan popoknya.

2⃣Jelaskan tentang jenis-jenis sentuhan pada balita
ada yang disebut :    
sentuhan baik/boleh, yaitu sentuhan dari bahu ke kepala (termasuk tangan) dan dari lutut kebawah.
sentuhan membingungkan, yaitu sentuhan dari bahu hingga lutut yang hanya boleh disentuh
Ayah, Bunda, dokter, nenek, karena kasih sayang. Jika anak merasa tidak nyaman, ia boleh marah
sentuhan buruk/tidak boleh, yaitu sentuhan yang dilakukan pada anggota tubuh yang ditutup pakaian dalam. Bagian ini tidak boleh disentuh dan h dilihat siapapun kecuali diri anak sendiri.
Ajarkan jenis-jenis sentuhan ini dengan 3 B, Bermain, Bernyanyi, dan Bercerita. Contoh lagu yang dapat diajarkan ada di link ini : https://soundcloud.com/semai2045/lagu-mengenal-sentuhan

3⃣Bangun dan pererat kedekatan dengan anak agar tercipta rasa berharga dalam dirinya.
Katakan padanya, anak yang berharga pandai menjaga diri. Berlian yang mahal tak sembarangan disentuh dan dilihat orang.
Dengan kedekatan, Ayah Bunda dapat memasukkan nilai-nilai yang ia perlukan untuk menjadi anak tangguh di era digital ini.
Dengan kedekatan juga anak leluasa dan terbuka terhadap apa saja yang ia alami sehari-hari.
Yakinkan anak kita bahwa Ayah Bunda cinta dan peduli serta akan melakukan apa saja untuknya.

4⃣Latihkan bagaimana mengatakan TIDAK jika ia merasa mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan orangtua. Latihkan dengan role play. Contoh roleplay mengatakan TIDAK pada orang asing ada di link ini : https://www.youtube.com/watch?v=xS0XiOLW_Qk

5⃣Ajarkan juga pada anak bagaimana melaporkan apa yang dilihat kepada orang dewasa yang ada didekat tempat kejadian.

6⃣TIDAK IKUT MENYEBARKAN GAMBAR MAUPUN LINK pada grup maupun media komunikasi pada orang lain DENGAN ALASAN APAPUN. Cukup ceritakan saja apa yang kita lihat. Jika kita menyebarkan gambar maupun link, kita menjadi tidak berbeda dengan penyebar pornografi, bukan?

7⃣Jika Ayah Bunda merasa perlu memberikan gadget pada anak dengan berbagai alasan, ingat bahwa ANAK KITA MASIH PERLU PARENTAL CONTROL (pendampingan orangtua)
Mengapa? karena otaknya yang bagian menyaring informasi baik dan buruk baru mulai bersambungan.
Bahkan yang anak butuhkan adalah pemahaman bahwa ia wajib menahan pandangan karena pandangan adalah pintu gerbang apa yang ada di otak anak.
Buat kesepakatan untuk pembatasan penggunaan gadget baik dari segi durasi perhari maupun apa saja yang boleh dilihat anak. Saat ini sudah ada aplikasi di android yang dapat memudahkan Ayah Bunda. Download secara gratis di Playstore dengan kata kunci 'kakatu' atau di www.bit.ly/kakatu

8⃣Pastikan anak kita tidak melihat pornografi dan pornoaksi dalam bentuk sehalus apapun
Menurut psikolog Victor B Cline, sekali tombol porno menyala di otak anak, selamanya ia tidak bisa dimatikan
Jika sudah tidak sengaja melihat, perbanyak input hal positif untuk menggantikan memori pornografi yang sudah terlanjur masuk.
Ajarkan padanya 'P3K' yang perlu dilakukan ketika tidak sengaja melihat, misal matikan gadget, kemudian berpindah tempat, kemudian bertaubat

〰〰〰〰〰〰〰
Mari kita selamatkan anak-anak kita yang adalah Generasi Emas Indonesia, dari bahaya pornografi, Narkoba Lewat Mata (NARKOLEMA).

Mulai dari mengasuh anak kita dengan benar dan baik. Menyelamatkan satu anak sama dengan menyelamatkan kemanusiaan

Mari berjuang bersama!

Kamu Bodoh! Kata Guru Indonesia. Kamu Pintar! Kata Guru Amerika

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Minggu, 17 Mei 2015

Membeli Dengan Adil

Berbuat Adil Saat Menawar

Seorang nenek duduk dipelataran parkir. di sampingnya terpajang aneka keripik dengan kemasan sederhana. Nampak tidak menarik, apalagi saat sibuknya lalu lalang orang yang keluar masuk gedung mall.

Senyumnya ramah menyapa setiap orang yang melaluinya, ia tak bosan menyapa satu demi satu, berharap dagangannya dibeli.

Kebanyakan bahkan tak sempat menjawab tawaran sang nenek. Ada juga yang menolak dengan halus. Dan sebagian kecil membelinya. Satu bungkus 10rb, tak seberapa mahal untuk satu kemasan keripik pisang dagangannya. Tapi lihatlah, wajahnya begitu bahagia saat seseorang membelinya.

Seorang kakek setiap hari berjalan kaki berkeliling kompleks, ia membawa sapu lidi hasil buatannya sendiri. Seorang ibu menawar sapu lidi buatan sang kakek, harga yang ditawarkan sudah murah, hanya 10rb. Tapi ibu itu menawar agar sapunya 5rb saja. Diakhir transaksi, kakek melepas sapunya seharga 8rb. Si ibu puas karena mendapat diskon 2rb. Dan hari itu, kakek pulang dengan uang hanya 8rb saja. Uang makannya hari itu, yang harus ia bagi lagi bersama istri dan cucunya. Ia tak berhasil menjual banyak, hanya satu sapu saja.

Disebuah restoran, satu keluarga menikmati makanan dengan lahapnya. Bisa menghabiskan beberapa ratus ribu untuk makan disana. Tak lupa seusai membayar Bill, ayah meninggalkan satu lembar uang 20rb sebagai tip.

Dirumah, seorang ibu mengumpulkan barang bekas karena nanti bisa dijual ke tukang rongsokan yang lewat. Lumayan, terkadang dengan tawar menawar yang sengit, akhirnya si ibu mendapat uang 10-20rb. Terkadang si ibu dan si abang masih bergerutu karena harga yang tidak terlalu cocok.

Bayangkan, jika nenek penjual keripik tadi, kita beli saja meski tak butuh. 10rb baginya, bukan hasil meminta, tapi perjuangan kerasnya melangkah puluhan kilometer dari rumahnya mengais rezeki halal.

Jika seandainya kakek penjual sapu, dibayar 20rb meski harga sapu 10rb. Ketimbang menawarnya, ia tentu pulang dengan langkah yang bahagia. Bisa membawakan makanan yang sedikit lebih baik dari biasanya untuk istri dan cucunya.

Lalu seandainya ibu yang mengumpulkan barang bekas memberikan saja dengan sukarela. Toh ia tidak lagi membutuhkan barang itu. Apa yang terjadi? Doa mengalir dari abang tukang rongsok. Bisa jadi istrinya sedang sakit, atau anaknya butuh biaya sekolah.

Membeli yang tidak kita butuhkan, melebihkan dari harga yang ditawarkan, atau memberikan sesuatu kepada mereka ditengah kerasnya perjuangan hidup mereka yang bertahan untuk tidak meminta2. Kitalah yang lebih berbahagia akhirnya, karena mereka begitu saja mendoakan kita dengan tulus.

Mengapa kita membeli mahal tanpa menawar di tempat yang berkelas, lalu menawar sebisa mungkin saat belanja dipinggir jalan. Mengapa 20rb terasa mahal, saat nenek menawarkan sebungkus keripik dagangannya, dibanding kita yang mudah saja meninggalkan 20rb sebagai uang tip usai makan di restoran…
*semoga mengingatkan kembali*

Resource: Copast

Senin, 20 April 2015

Karl Raimund Popper

Ketika Ia Hidup

Karl Raimund Popper lahir di Wina tanggal 28 Juli 1902. Ayahnya Dr. Simon Siegmund Carl Popper adalah seorang pengacara yang sangat berminat pada filsafat. Maka tidak mengherankan bila ia begitu tertarik dengan dunia filsafat, karena ayahnya telah mengkoleksi buku-buku karya filusuf-filusuf ternama.
Pada usia 16 tahun ia keluar dari sekolahnya, Realgymnasium, dengan alasan Ia bosan dengan pelajaran disana maka ia menjadi pendengar bebas di Universitas Wina dan baru pada tahun 1922 ia diterima sebagai mahasiswa disama.
Setelah perang dunia I dimana begitu banyak penindasan dan pembunuhan maka Popper terdorong untuk menulis sebuah karangan tentang kebebasan. Dan diusia 17 tahun ia menjadi anti Marxis karena kekecewaannya pada pendapat yang menghalalkan “segala cara” dalam melakukan revolusi termasuk pengorbanan jiwa. Dimana pada saat itu terjadi pembantaian pemuda yang beraliran sosialis dan komunis dan banyak dari teman-temannya yang terbunuh. Dan sejak saat itu ia menarik suatu kebijaksanaan yang diungkapkan oleh Socrates yaitu “Saya tahu bahwa saya tidak tahu”, dan dari sini ia menyadari dengan sungguh-sungguh perbedaan antara pemikiran dogmatis dan kritis.
Salah satu peristiwa yang mempengaruhi perkembangan intelektual Popper dalam filsafatnya adalah dengan tumbangnya teaori Newton dengan munculnya Teori tentang gaya berat dan kosmologi baru yang gikemukakan oleh Einstein. Dimana Popper terkesan dengan ungkapan Einstein yang mengatakan bahwa teorinya tak dapat dipertahankan kalau gagal dalm tes tertentu, dan ini sangat berlainan sekali dengan sikap kaum Marxis yang dogmatis dan selalu mencari verifikasi terhadap teori-teori kesayangannya.
Dari peristiwa ini Popper menyimpulkan bahwa sikap ilmiah adalah sikap kritis yang tidak mencari pembenaran-pembenaran melainkan tes yang crucial berupa pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya, meskipun tak pernah dapat meneguhkannya.
Tokoh lain yang cukup berpengaruh pada Popper yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran filsafatnya adalah Karl Buhler, seorang profesor psikologi di Universitas Wina. Buhler memperkenalkan pada Popper tentang 3 tingkatan fungsi bahasa, yaitu fungsi ekspresif, fungsi stimulatif, dan fungsi deskriptif. Dua fungsi pertama selalu hadir pada bahasa manusia dan binatang sedangkan fungsi ketiga khas pada bahasa manusia dan bahkan tidak selalu hadir. Dan pada perkembangannya Popper menambahkan fungsi keempat yaitu fungsi argumentatif, yang dianggapnya terpenting karena merupakan basis pemikiran kritis.
Dalam perkembangan selanjutnya ia banyak menulis buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan epistemologi, dan sampai pada bukunya yang berjudul Logik der Forschung, ia mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh lewat percobaan dan pembuangan kesalahan. Dan terus berkembang sampai karyanya yang berjudul The Open Society and Its Enemies, dalam karyanya ini Popper mengungkapkan bahwa arti terbaik “akal” dan “masuk akal” adalah keterbukaan terhadap kritik – kesediaan untuk dikritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri.
Dari sini Popper menarik kesimpulan bahwa menghadapkan teori-teori pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya adalan satu-satunya cara yang tepat untuk mengujinya dan juga satu-satunya cara yang menungkinkan ilmu pengetahuan bisa berkembang terus menerus. Dan dengan adanya kemungkinan untuk menguji teori tentang ketidakbenarannya berarti teori itu terbuka untuk di kritik dan ia memunculkan apa yang dinamakan Rasionalisme kritis. Demikianlah sekelumit kehidupan Karl Raimund Popper yang mengakhiri hidupnya pada tahun 1994.
Karya-karyanya
1. Logik der Forschung tahun 1934
2. The Open Society and Its Enemies I, II; The Poverty of Historicism tahun 1957
3. The Logic of Scientific Discovery tahun 1959
4. Conjectures and Refutations: the Growth of Scientific Knowledge tahun 1963
5. Objective Knowledge, an Evolutionary Approach tahun 1972
6. The Philosophy of Karl Popper tahun 1974
Kritiknya terhadap Positivisme Logis
Asumsi pokok teorinya adalah satu teori harus diji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya, dan Popper menyajikan teori ilmu pengetahuan baru ini sebagai penolakannya atas positivisme logis yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah pada dasarnya tidak lain hanya berupa generalisasi pengalaman atau fakta nyata dengan menggunakan ilmu pasti dan logika. Dan menurut positivisme logis tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah menanamkan dasar untuk ilmu pengetahuan.
Hal yang dikritik oleh Popper pada Positivisme Logis adalah tentang metode Induksi, ia berpendapat bahwa Induksi tidak lain hanya khayalan belaka, dan mustahil dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi. Tujuan Ilmu Pengetahuan adalah mengembangkan pengetahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh positivisme logis adalah induksi dirasakan tidak tepat sebab jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku, karena elemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran deduktif.
Penolakan lainnya adalah tentang Fakta Keras, Popper berpendapat bahwa fakta keras yang berdiri sendiri dan terpisah dari teori sebenarnya tidak ada, karena fakta keras selalu terkait dengan teori, yakni berkaitan pula dengan asumsi atau pendugaan tertentu. Dengan demikian pernyataan pengamatan, yang dipakai sebagai landasan untuk membangun teori dalam positivisme logis tidak pernah bisa dikatakab benar secara mutlak.
Pemikirannya : Asas Falsifiabilitas
Menurut Popper teori yang melatar belakangi fakta-fakta pengamatan adalah titik permulaan ilmu pengetahuan dan teori diciptakan manusia sebagai jawaban atas masalah pengetahuan tertentu berdasarkan rasionya sehingga teori tidak lain hanyalah pendugaan dan pengiraan dan tidak pernah benar secara mutlak sehingga perlu dilakukan pengujian yang secermat-cermatnya agar diketahuan ketidakbenarannya.
Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang apabila teori yang diciptakannya itu berhasil ditentukan ketidakbenarannya. Dan Popper mengganti istilah verifikasi dengan falsifikasi.
Keterbukaan untuk diuji atau falsifiabilitas sebagai tolok ukur mempunyai implikasi bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang dan selalu dapat diperbaiki, dan pengetahuan yang tidak terbuka untuk diuji tidak ada harapan untuk berkembang, dan sifatnya biasanya dogmatis serta tidak dapat digolongkan sebagai pengetahuan ilmiah.
Adapun bagan mengenai metode falsifiabilitas yang dikemukankan oleh Popper dapat ditunjukkan sebagai berikut :
Tahap 1: P1 – TT – EE – P2
Tahap 2: P2 – TT1 – EE1 – P3
Tahap … dst…..
Keterangan :
P1 : Permasalahan/ Problem Awal
TT : Tentative Theory
EE : Error Elimination
P2 : Problem baru
TT1 : Tentative theory ke dua
EE1 : Error Elimination ke dua
P3 : Problem baru

Dari bagan ini terlihat bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti alur diatas dan penjelasan ini akan lebih jelas lagi dengan menyimak penjelasn yang berikut.
Proses Pengembangan Pengetahuan Ilmiah
Popper menekankan bahwa pengalaman merupakan unsur yang paling menentukan dan pengalaman tidak mengenai sesuatu yang berdiri sendiri yang dapat dipakai sebagai tolok ukur atau batu uji mutlak buat pembuktian atau embenaran suatu teori atay pernyataan, melainkan mengenai cara menguji, atau metode penelitian itu sendiri. Jadi Popper mengatakan bahwa pengalaman saman dengan pengujian dan pengujian sama dengan metode penelitian.
Popper juga mengungkapkan adanya tahap-tahap pengembangan pengetahuan ilmiah, yaitu tahap 1, Penemuan masalah, ilmu pengetahuan mulai dari satu masalah yang bermula dari suatu penyimpangan, dan penyimpangan ini mengakibatkan orang terpaksa mempertanyakan keabsahan perkiraan itu dan ini merupakan masalah pengetahuan. Tahap 2, Pembuatan Teori, langkah selanjutnya adalah merumuskan suatu Teori sebagai jawabannya yang merupakan hasil daya cipta pikiran manusia dan sifatnya percobaan atau terkaan. Teori sifatnya lebih abstrak dari masalah. Tahap 3, Perumusan ramalan atau hipotesis, Teori selanjutnya digunakan untuk menurunkan ramalan atau hipotesis spesifik secara deduktif dan ini ditujukan kepada kenyataan empiris tertentu. Tahap 4, Pengujuan ramalan atau hipotesis, selanjutnya hipotesis diuji melalui pengamatan dan eksperimen tujuannya adalah mengumpulkan keterangan empiris dan menunjukkan ketidakbenarannya. Tahap 5, Penilaian hasil, tujuan menilai benar tidaknya suatu teori oleh Popper dinamakan pernyataan dasar yang menggambarkan hasil pengujian. Pernyataan dasar ini memainkan peranan khusus yaitu pernyataan yang bertentangan dengan teori, dan ini semacam petunjuk ketidakbenaran potensial dari teori yang ada. Dalam tahap ke 5 ini terdapat dua kemungkinan, pertama, teori ini diterima sehingga tidak berhasil ditunjukkan ketidakbenarannya dan untuk sementara teori ini dapat dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah sampai pada suatus aat dapat dirobohkan dengan menyusun suatu pengujian yang lebih cermat. Kemungkinan kedua, adalah teori ini ditolak sehingga terbukti bahwa ketidakbenarannya dan konsekuensinya muncul masalah baru dan harus segera dibentuk teori baru untuk mengatasinya. Tahap 6, Pembuatan Teori Baru, dengan ditolaknya teori lama maka muncullah masalah baru yang membutuhkan teori baru untuk mengatsinya dan sifat dari teori ini tetap abstrak dan merupakan perkiraan atau dugaan sehingga merupakan suatu percobaan yang harus tetap diuji.
Dari penjelasan diatas bahwa untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah tentunya manusia tidka akan lepas dari kegiatan percobaan, kesalahan, terkaan dan penolakan yang silih berganti dan menurut Popper teori adalah unsur tetap dalam evolusi manusia dan teori pula adalah unsur rasio dan bagian dari pembawaan manusia.
Menurut Popper filsafat ilmu pengetahuan tidak lain merupakan suatu pengujian untuk memberikan alasan atau argumentasi untuk memilih teori satu dan membuang teori yang lain dan bukan mengenai pembenaran suatu teori. Dan apa yang dapat dibuat tidak lain hanya mengadakan pilihan rasional dalam keputusan tentang suatu pernyataan. Filsafat ilmu pengetahuan hanya dapat berbicara tentang pengetahuan dalam arti kata produksi, sedangkan masalah bagaimana pengetahuan itu dihasilkan atau ditemukan tidak bisa menjadi pokok pembicaraan oleh karena meliputi “intuisi kreatif” yang tidak terbuka untuk ditelaah.
Apa yang dimaksud oleh Popper Rasionalisme Kritis adalah memberikan kebebasan pada manusia untuk berfikir penuh kepada manusia. Pikiran manusia merupakan percobaan atau terkaan belaka. Untuk memperbaiki nasibnya manusia dituntut mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan cara mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang tersimpan dalam pikirannya sendiri. Teori disatu pihak hanyalah alat untuk mencapai pikiran yang lain dan lebih tepat. Teori pada hakekatnya merupakan jalan menuju fakta-fakta baru. Tugas Ilmuwan menurut Popper adalah membebaskan manusia dari terkaan dan ia dituntut untuk berkarya dan menciptakan fakta barusehingga dengan cara ini manusia dapat dibebaskan dari cengkraman kesalahan.
Kritik terhadap Popper
Kritik pertama disampaikan oleh Thomas Kunt ia melihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu dilihat dari masa lalu dan jika demikian maka apa yang diungkapkan oleh Popper tidak sesuai. Kunt mengungkapkan bahwa perkembang ilmu pengetahuan itu melalui 2 tahapan, yaitu tahap normal dan tahap revolusi.
Tahap normal ditandai dengan kesepahaman dikalangan ilmuwan tentang permasalahan yang pantas diteliti maupun syarat0syarat yang harus dipenuhi supaya hasil penelitian dapat diterima. Dengan adanya kesepakatan ini maka metode yang digunakannya pun berdasarkan kesepakatan. Karena ada kesepakatan diantara ilmuwan maka setiap fakta baru yang muncul akan segera diketahui keberadaannya. Namun ketika f\suatu fakta baru muncul dan dianggap menyimpang karena tidak dapat diteliti dengan menggunakan paradigman yang dianut, maka tidaks egera mengganti paradigma yang lama dengan yang baru seperti apa yang dikatakan oleh Popper tetapi semua ilmuwan itu mencoba berdialog dan membicarakan hal ini guna menetapkan paradigman baru yang akan dipakai, dan jika pada perbincangan itu tidak bisa dijelaskan tentang fakta yang baru ini maka barulah keabsahan yang menyimpang mulai diakui dan timbul akan paradigma baru. Dan ini merupakan permulaan dari tahap revolusi.
Ciri khas dari tahap revolusi adalah tiadanya satu paradigma yang berperan sebagai titik orientasi yang tetap dan juga jatuhnya syarat-syarat yang dianggap harus dipenuhi untuk suatu penelitian, atau menurut Kunt dinamakan Anomali. Dengan demikian maka penjelasan untuk pengertian paradigma dan perkembangan ilmu pengetahuan yang menyertainya harus bersifat sosiologis.
Kritik kedua dilontarkan oleh Winch, ia mengatakan bahwa asumsi dasar Popper tentang tujuan ilmu pengetahuan tidaklah benar karena tujuan ilmu pengetahuan adalah mengembangkan ilmu pengetahuan berkesatuan (Einheitswissenschaft), dan menurut Winch antara ilmu alam dan ilmu sosial terdapat perbedaan yang mendasar sehingga kenyataan yang ingin dideskripsikan dan dijelaskan oleh ilmu sosial menunjukkan sifat lain dari ilmu alam sehingga tidak dapat dijelaskan dengan hukum-hukum abstrak dan universal. Ilmu sosial umumnya bertugas memberikan interpretasi, yakni harus menerangkan “pengertian” konsep yang berkaitan dengan kelakuan manusia dan metode yang paling cocok untuk itu harus bersifat interpretatif dan berdasarkan apa yang lazim dinamakan “verstehen”. Asas filsafat ilmu pengetahuan yang mendasari ilmu alam tidak dapat dianggap berlaku untuk ilmu-ilmu sosial.


Daftar Pustaka
Taryadi, Alfons, Epistemologi Pemecahan Masalah : Menurut Karl R. Popper, PT. Gramedia, Jakarta, 1989
Wuisman, J.J.J.M, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, jilid 1, Lembaga Penerbit FE UI, Jakarta, 1996

Sumber: http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/03/31/karl-raimund-popper/,di akses 2 november 2011

Contoh Proposal Skripsi

PROPOSAL SKRIPSI
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di LP Anak Kelas II A Kota Tangerang dan Pengaruhnya terhadap Akhlak Narapidana Anak



 Logo Universitas





Disusun Oleh:
Ahmad Mustomi Inal Qirom 109011000099

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012