Informasi yang kamu cari

Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

Tentang Pornografi Anak

Copy paste, izin posting ulang...

SELAMATKAN SATU ANAK, SELAMATKAN KEMANUSIAAN
[Ajakan Elly Risman kepada Orang Tua Cerdas Indonesia]

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Oleh : Yayasan Kita dan Buah Hati
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Marak tersebar link video yang menunjukkan adegan dewasa yang diaktori anak-anak. Anak laki-laki dalam video tersebut diperkirakan kelas 1 SD dan anak perempuannya kelas 2 atau 3 SD.

Dalam grup-grup diskusi di Facebook maupun Whatsapp pun, laporan mengenai kasus perilaku anak-anak yang beradegan dewasa terus berdatangan.

Tak perlu media massa menyiarkan, kejadian itu seakan sudah ada di lingkungan rumah kita. Bahkan bisa dikatakan hampir semua dari kita sudah tau kejadian ini.

Bagaimana tidak? Populasi gadget di Indonesia 30 juta lebih banyak dari populasi manusianya.

Jika dulu orang yang ingin melihat konten tidak patut perlu membeli majalah di ujung gang, kini pebisnis porno di internet yang memburu anak kita masuk ke dalam kamarnya, dengan layar gadget menjadi “pintu kemana saja”.

〰〰〰〰
Menurut Ayah Bunda, darimana munculnya minat anak-anak melakukan adegan tersebut? Bukankah saat kita lulus TK, kita sedang berminat menyusun kata dan menulis angka?

Otak anak masih dalam tahap meniru dan bereksplorasi. Otaknya yang belum sempurna bersambungan membuat anak melakukan sesuatu berdasarkan dorongan keinginan, bukan pemikiran apalagi pertimbangan konsekuensi.

Jadi, ketika ia melakukan adegan orang dewasa, yang ia coba dan ia tiru SUDAH PASTI berasal dari matanya : apa yang ia lihat.

Bahkan pada link video yang tersebar, jelas terdengar anak-anak itu diarahkan orang dewasa sedangkan anak-anak itu terlihat melakukannya dengan suka rela.

Ada apa ini? Mungkinkah anak-anak itu juga DIJADIKAN KOMODITI? Apakah ada yang mengambil keuntungan dari hancurnya anak-anak kita sejak usia dini?

Yang perlu kita ketahui adalah Child Pornography merupakan ‘narkoba’ level tertinggi bagi pecandunya yang sudah sakau berkali-kali. Harga jualnya paling mahal dalam bisnis mereka.

Kejadian demi kejadian terjadi bersamaan dengan pemerintah kita yang sedang berbenah. Yuk kita sebagai orangtua dan warga negara, aktif menyuarakan bahwa #IndonesiaDaruratPornografi

Ajarkan juga hal dibawah ini pada anak kita :
1⃣jelaskan tentang aurat sejak usianya 3 tahun
katakan padanya ada bagian tubuh yang tidak boleh terlihat oleh siapa-siapa kecuali oleh diri sendiri. Bagian tubuh itu adalah KEMALUAN.
Mengapa disebut kemaluan? Karena malu jika terlihat orang lain. Kita juga malu ketika melihat kemaluan orang lain.
Jangankan menyentuh dan disentuh, melihat pun tidak boleh. Haram hukumnya.
Ayah Bunda jelaskan pada anak kita dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, apa yang dimaksud dengan haram.
Oleh karena itu pula, Ayah Bunda harus memastikan anak kita sudah bisa membersihkan dirinya ketika buang air.
Sejak ia bisa bicara, selalu MEMINTA IJIN ketika akan memakaikan baju maupun menggantikan popoknya.

2⃣Jelaskan tentang jenis-jenis sentuhan pada balita
ada yang disebut :    
sentuhan baik/boleh, yaitu sentuhan dari bahu ke kepala (termasuk tangan) dan dari lutut kebawah.
sentuhan membingungkan, yaitu sentuhan dari bahu hingga lutut yang hanya boleh disentuh
Ayah, Bunda, dokter, nenek, karena kasih sayang. Jika anak merasa tidak nyaman, ia boleh marah
sentuhan buruk/tidak boleh, yaitu sentuhan yang dilakukan pada anggota tubuh yang ditutup pakaian dalam. Bagian ini tidak boleh disentuh dan h dilihat siapapun kecuali diri anak sendiri.
Ajarkan jenis-jenis sentuhan ini dengan 3 B, Bermain, Bernyanyi, dan Bercerita. Contoh lagu yang dapat diajarkan ada di link ini : https://soundcloud.com/semai2045/lagu-mengenal-sentuhan

3⃣Bangun dan pererat kedekatan dengan anak agar tercipta rasa berharga dalam dirinya.
Katakan padanya, anak yang berharga pandai menjaga diri. Berlian yang mahal tak sembarangan disentuh dan dilihat orang.
Dengan kedekatan, Ayah Bunda dapat memasukkan nilai-nilai yang ia perlukan untuk menjadi anak tangguh di era digital ini.
Dengan kedekatan juga anak leluasa dan terbuka terhadap apa saja yang ia alami sehari-hari.
Yakinkan anak kita bahwa Ayah Bunda cinta dan peduli serta akan melakukan apa saja untuknya.

4⃣Latihkan bagaimana mengatakan TIDAK jika ia merasa mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan orangtua. Latihkan dengan role play. Contoh roleplay mengatakan TIDAK pada orang asing ada di link ini : https://www.youtube.com/watch?v=xS0XiOLW_Qk

5⃣Ajarkan juga pada anak bagaimana melaporkan apa yang dilihat kepada orang dewasa yang ada didekat tempat kejadian.

6⃣TIDAK IKUT MENYEBARKAN GAMBAR MAUPUN LINK pada grup maupun media komunikasi pada orang lain DENGAN ALASAN APAPUN. Cukup ceritakan saja apa yang kita lihat. Jika kita menyebarkan gambar maupun link, kita menjadi tidak berbeda dengan penyebar pornografi, bukan?

7⃣Jika Ayah Bunda merasa perlu memberikan gadget pada anak dengan berbagai alasan, ingat bahwa ANAK KITA MASIH PERLU PARENTAL CONTROL (pendampingan orangtua)
Mengapa? karena otaknya yang bagian menyaring informasi baik dan buruk baru mulai bersambungan.
Bahkan yang anak butuhkan adalah pemahaman bahwa ia wajib menahan pandangan karena pandangan adalah pintu gerbang apa yang ada di otak anak.
Buat kesepakatan untuk pembatasan penggunaan gadget baik dari segi durasi perhari maupun apa saja yang boleh dilihat anak. Saat ini sudah ada aplikasi di android yang dapat memudahkan Ayah Bunda. Download secara gratis di Playstore dengan kata kunci 'kakatu' atau di www.bit.ly/kakatu

8⃣Pastikan anak kita tidak melihat pornografi dan pornoaksi dalam bentuk sehalus apapun
Menurut psikolog Victor B Cline, sekali tombol porno menyala di otak anak, selamanya ia tidak bisa dimatikan
Jika sudah tidak sengaja melihat, perbanyak input hal positif untuk menggantikan memori pornografi yang sudah terlanjur masuk.
Ajarkan padanya 'P3K' yang perlu dilakukan ketika tidak sengaja melihat, misal matikan gadget, kemudian berpindah tempat, kemudian bertaubat

〰〰〰〰〰〰〰
Mari kita selamatkan anak-anak kita yang adalah Generasi Emas Indonesia, dari bahaya pornografi, Narkoba Lewat Mata (NARKOLEMA).

Mulai dari mengasuh anak kita dengan benar dan baik. Menyelamatkan satu anak sama dengan menyelamatkan kemanusiaan

Mari berjuang bersama!

Kamu Bodoh! Kata Guru Indonesia. Kamu Pintar! Kata Guru Amerika

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Rabu, 11 Februari 2015

Ibu dan Ayah, Sudah Betulkah Mendidik Anak?

Perhtian buat ortu dan calon ortu..
(Hasil Seminar tanggal 30 Oktober di Kemang Village, Jakarta)
Oleh: Elly Risman, M.Psi (Yayasan Buah Hati)
Di share dari teman yang ikut di Jakarta. Panjang tapi sangat menarik buat orang tua agar aware.
Seminar dibuka dengan layar presentasi yang menayangkan contoh SMS anak sekarang, dengan huruf biasa tapi dibuat secara ALAY, tapi dibuat sedemikian rupa, sehingga kami, seluruh orang tua yang ada di ruangan seminar, tidak ada yang bisa membaca SMS apakah itu? Apa maksud SMS tersebut?
Alaaahh…SMS alay kan bisa dibaca. Meski bikin mata dan otak kerja keras dulu buat tahu maksudnya? NO! Totally, nggak ada satupun yang bisa baca SMS tersebut. Dan, Taaaraa…..ternyata selain dengan huruf alay, SMS tersebut, dibacanya harus dengan posisi HP terbalik (bagian atas HP menjadi bagian bawah)! Can you imagine that????
Dan isinya adalah: ”Hi, sayang, aku kangen nih. Udah lama kita GA ML, Yuk, mumpung bonyok lagi pergi, yuk kita ketemuan…dsb .” (Sorry saya agak lupa persisnya namun isinya kurang lebih seperti itu – ML= Making Love=berhubungan SEX). Seisi ruangan seminar langsung heboh.
Note dari pembicara: SMS sayang-sayangan anak sekarang udah bukan “I love you/I miss u”, tapi sudah soal LAMA GA ML…Demmm…Ihikksss dari awal seminar, mata saya udah melotot lebaarr!
2. Anak-anak kita hidup di era digital. Banyak media elektronik dan cetak yang diakses anak, banyak yang mengandung unsur pornografi: Games, Internet, HP, TV, VCD, Komik, Majalah, dan lain-lain.
3. Yang pertama dibahas adalah GAMES . Games di abad ke-21, berdasarkan penelitian, gambar lebih realistis, pemain bisa memilih karakter apa saja, yang tidak ada di dunia nyata, ketrampilan lebih kompleks dan kecekatan yang lebih tinggi—> Kepuasan dan kecanduan lebih besar.
4. Jenis Games lebih beraneka macam. Aksi, adventure, strategi, role playing.
Note dari pembicara: SUPER HATI-HATI dengan GAMES anak-anak anda!
a. Ada games yang bergenre awal action, isinya adalah tembak-tembakan dan sebagainya, namun ternyata jika, anak kita sudah sampai level akhir, bonus di akhir levelnya adalah ML dengan pelacur jalanan…?????
b. Ada games yang berjenis role playing, dan naudzubillahimindzalik, ceritanya adalah tentang bagaimana “memperkosa paling asyik???????
Jadi tinggal pilih cerita yang melatarbelakangi, kemudian tinggal pilih perempuan model apa yg mau “dipilih”, modelnya nggak pake baju sama sekali, dan tinggal pilih bagian tubuh mana yang mau dipegang pertama kali dan seterusnya. Cursor berbentuk tangan, yang digerakkan oleh anak-anak kita. ——>Seisi ruangan seminar langsung heboh lagi. Gumaman Astagfirrullah bertebarann di ruangan.
5. Pikir baik-baik jika anda ingin membelikan games atau anak-anak anda beli games sendiri/meminjam games dari teman! Dan hati-hati , jika di depan sekolah anak-anak ada warnet! Jenis Games yang ada, murah dan gampang didapat, jenisnya sudah di luar perkiraan kita, orang tua!
Note dari pembicara: suami saya, yg orang IT dan doyan maen games pun, terkejut bukan kepalang, pas tahu soal jenis games ini!!:(
6. Internet. Situs Porno bertebaran di dunia maya. Dan, jangan salah, pembuatnya juga anak-anak kita juga! Bahkan untuk mendapatkan uang, mereka menjual video sex mereka sendiri!–> Pas seminar kami ditunjukkan ribuan video sex yg gampang diperoleh lewat internet.
*tambahan: mohon maaf bagi pengusaha warnet dan games, semoga bisa lebih selektif memilih isi games dan securitas di dalam warnet, sudahkan disediakan filter anti Pornografi? Sudahkah memblokir situs-situs porno? Jangan khawatir warnet kita tidak laku, khawatirlah ketika Allah memintai pertanggung jawaban kita di akhirat nanti akibat kita yang secara tidak langsung menyediakan sarana menuju pornografi dan membiarkannya berlangsung di tempat kita.
Note dari pembicara:
a. Siapa bilang ML harus telanjang dan harus di tempat tidur/hotel ? –>> kami ditunjukkan sekilas video ABG berseragam SMP, sedang ML di tangga dan berpakaian lengkap!
b. Hamil?siapa takkut!–> Bisa Aborsi !
7. HP. Hoho…Video-video sex tersebar melalui HP Kapasitas HP yang besar, memungkinkan sang pemilik memiliki file-file berukuran besar seperti video dan gambar porno. Anak anda CLEAN?–>Bisa jadi dia dapat kiriman gambar/video dari temennya!
Kasus: (yang pernah ditangani Ibu Elly). Ada seorang Ibu, yang datang ke beliau, shock karena menemukan gambar Vagina-seseorang di BBnya, yang ternyata setelah ditelusuri adalah kepunyaan temen sekolah (wanita) anaknya yang lelaki (yang suka minjem BB beliau!)…
8. Televisi . Program TV yang masih pantas diikuti, bisa dihitung dengan tangan. Lainnya adalah program pembodohan, hantu, kekerasan dan pornografi. Sinetron, telenovela, sinetron-sinetron Jepang/Korea, film, dan sebagainya.
Jangan salah, iklan pun juga menyesatkan. Ayoo jangan anggap enteng sinteron/film-film Korea/Jepang! Lama-lama anak anda terbrainwash, terbiasa dengan kekerasan, sex bebas!
9. KOMIK . Ya, komik memang bergambar kartun. Tapi soal cerita, nggak kalah dengan novel porno lainnya. Bahkan lebih mengerikan karena didukung dengan gambar. Gambar sampul depan, mungkin tidak menyiratkan satu kepornoan pun, tapi di dalamnya, kita orang tua harus tahu bahwa ceritanya ujung-ujungnya tentang sex bebas.
Note dari pembicara: Dari, survey yang telah dilakukan pembicara, salah satu judul games, komik, DVD yang masuk dalam kategori “BAHAYA” adalah NARUT*…semuanya yang berbau NARUT*, hati-hati!! WATCH OUT!!!! APA TUJUANNYA? APA YANG MEREKA INGINKAN TERHADAP ANAK-ANAK KITA?
1.Yang mereka inginkan, anak dan remaja kita memiliki MENTAL MODEL PORNO = perpustakaan porno, yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja.
2.Kerusakan otak permanen —> yang hasil akhir yang diinginkan adalah–>INCEST!!!
3.Sasaran tembak utama: Anak-anak kita yang belum baligh. Jika sudah mengalami 33-36 ejakulasi–> pecandu pornografi –>PASAR MASA DEPAN!!!
Proses Kecanduan dan Akibatnya.
1. Di dalam otak ada bagian yang disebut PRE FRONTAL CORTEX (PFC). PFC, tempat dibuatnya moral, nilai-nilai, bertanggung jawab untuk: perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi, kontrol diri, konsekuensi, pengambilan keputusan. PFC–> Matang di usia 25 tahun.
2. Sekali anak mencoba “kenikmatan” semu–>Dopamin (ket: suatu hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus) diproduksi –> Anak merasa senang–> Kemudian timbul rasa bersalah.
3. Saat anak merasa senang tersebut (kebanjiran Dopamin), maka yang akan terganggu adalah: Analisa, penilaian, pemahaman, pengambilan keputusan, makna hubungan, hati nurani—> spiritualitas/iman akan terkikis–> ANAK TUMBANG–> Mental Model Porno—>INCEST!!!!
4. Bagian otak yang rusak karena Narkoba: tiga bagian saja, tapi oleh pornografi/sex: lima bagian otak yang rusak!
5. Industri yang terlibat pornografi: entertainment, pornografi, perfilman, majalah porno, musik, jaringan TV kabel, pembuat dan pemasar video games, dan lain-lain.
SIAPKAH KITA SEBAGAI ORTU?
1. Kesalahan Budaya.
Yang mengasuh anak: IBU!! Ayah mencari Nafkah, bila perlu baru lapor Ayah!! SALAH BESAR!—> REVOLUSI PENGASUHAN!! ………… (Nyambung dengan artikel Pak Gendi, Where’s All The Father Gone? Kemana Para Ayah? Indonesia, A Fatherless Country???) Lihat fenomena Anak-Anak Jack Mania?–> Kemana AYAHmu nakkk? Kemana ibumu naak????
Note dari pembicara: Bukan main saya bersyukurnya saya, pas bagian ini. Syukur Alhamdullillah, saya berhasil “memaksa” suami saya untuk ikut seminar ini.
2. Kelalaian kita sebagai ortu: Orang Tua Kurang:
1. Mempunyai waktu dengan anak. Are u a weekend parent? Anak diikutkan les sana-sini. Pertanyaan orang tua ke anak hanya tentang lesmu gimana nak? Nilaimu berapa nak? Kamu nggak bolos kan? Kamu biasa ngerjain ujian kan hari ini?—> Anak-anak menjadi anak yang BLASTED (Boring– >Lazzy–> Stress!)
2. Mengajarkan agama dan penerapannya? —> Eksport! Merasa cukup menyekolahkan anak-anak di sekolah berbasis agama. Anak disuruh les ngaji/agama. Penerapan? NOL BESAR!! Menyuruh anak sholat tepat waktu, ortu? Bolong-bolong sholatnya? Ortu berbaju tertutup, anaknya maen ke mall hanya memakai rok mini/tanktop? Anak disuruh les ngaji? Ortunya ngaji aja nggak bisa!!!! dan sebagainya.
3. Target pengasuhan: UMUM, kurang teguh pada prinsip—>hanyut dalam TREND. Temen anak di sekolah pada punya IPOD, Anak buru-buru dibelikan—> malu dibilang nggak trendy? Malu anak punyanya HP jadul yang cuma bisa SMS/telp?–> dibelikan BB paling mutakhir.
4. Tanggap Teknologi dan Gagap Teknologi (Gaptek). Ortu bisanya memfasilitasi, tapi nol besar dengan pengetahuan mengenai perangkat yang dibelikan buat anak-anaknya. Buktinya: baca SMS alay saja nggak bisa!…gimana mau ngawasin anak?
Note dari pembicara: Jadi orangtua, harus “GAUL” dan PINTER !!! Siapa bilang jadi orangtua itu gampang?
5. Memberikan anak perangkat teknologi, tidak tahu akibat negatifnya, tanpa penjelasan dan tanpa persyaratan.
Note dr pembicara: Orang Tua sekarang adalah Generasi ORTU yang ABAI…Generasi ORTU PINGSAN!! Yang penting anak sekolah, les, diam di rumah di depan Komputer, Games, HP, Televisi —> Yakin, Anak anda AMAN????
6. Berkomunikasi yang baik dan benar: tidak memahami perasaan anak dan remaja.
TIPS Membuat Anak Tangguh di Era Digital:
1. Hadirkan Allah/Tuhan di dalam diri anak. Ajarkan untuk selalu ingat Allah taat kepadaNYA dari kecil. Hindari: Jangan sampai kamu hamil ya, Bikin malu keluarga! Bapak / Ibu malu!!!—> Salah Besar. Ajarkan bahwa, di manapun dia berada, Allah tau apa yang dia perbuat!
2. Perbaiki pola pengasuhan/parenting. Libatkan kedua-belah pihak. Jangan jadi ortu yang abai bin pinplan.
3. Validasi anak: penerimaan, pengakuan dan pujian. Jangan jadikan anak anda, anak yang BLASTED! Boringg –> Lazzy –> Stressed!!
4. Mandiri dan Bertanggung jawab kepada ALLAH, diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
5. Memberikan fasilitas pada anak harus dengan landasan dan persyaratan agama yang jelas.
6. Mempunyai MODEL yang baik dan benar KOMIK:
• Cek bacaan anak
• Baca dulu sebelum membeli
• Secara berkala periksa meja belajar/ lemari/kolong tempat tidur .
Notes:
JANGAN SAMPAI KETAHUAN ANAK!!
• Kenalkan anak pada berbagai jenis bacaan
• Diskusikan bacaan dengan anak GAMES
• Perhatikan letak komputer/media video games di rumah
• Perhatikan jarak antara mata anak/ruang cukup pencahayaan, layar tidak terlalu terang
• Pilihkan meja dan kursi yang ergonomis
• Buat kesepakatan dengan anak tentang:
o Berapa dalam seminggu
o Kapan waktu yang tepat
o Games apa yang boleh dimainkan
o Sanksi apa yang diberlakukan, jika melanggar
• Dampingi anak dalam membeli games dan cek selalu rating Games dalam kemasan games.
Banyak video games ber-rating AO (Adult Only) atau M (mature) yang dibajak dengan rating ESRB (Entertainment Software Rating Board), sebuah lembaga pemberi rating untuk games hiburan) diubah menjadi Teen, seperti GTA San Andreas, Mass Effect, Gta IV, dan sebagainya.
Note dari pembicara: Marak video game kekerasan yang menampilkan secara gamblang adegan seksual di tengah-tengah video gamenya seperti GTA: San Andreas dan Mass Effect. GTA: San Andreas mendapatkan kecaman keras dari banyak kalangan dunia seperti Jack Thompson dan Hillary Clinton, sehingga memaksa produsennya mengganti rating ESRBnya menjadi A (awalnya M (Mature)). Hal ini mengakibatkan profitnya turun hingga $28.8 juta.
Pada tanggal 20 Oktober 2003, Aaron Hamel dan Kimberly Bede menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh dua remaja, William dan JoshBuckner, karena keduanya terinspirasi setelah memainkan GTA:III. Akibat kejadian tersebut Aaron meninggal dunia, sedangkan Kimberley mengalami luka parah.
TV
• Atur jam menonton TV
o No TV di bawah dua tahun
o 5-7 tahun paling lama menonton TV 2 jam/hari
• Kenalkan dan diskusikan tentang program TV yang baik dan buruk
• Perhatikan jarak menonton
INTERNET
• Perhatikan letak komputer: tidak menghadap dinding
• Lakukan filterisasi terhadap situs porno (pasang alat pemblokir situs porno)
• Buat Kesepakatan tentang waktu bermain internet
• Secara berkala, cek situs apa saja yang telah dibuka anak di komputer
IKHTIAR TERAKHIR
1. Perbanyak mendengarkan perasaan. GUNAKAN DUA TELINGA lebih sering daripada satu MULUT.
2. Orang tua harus TTS = TEGAS, TEGAR, SABAR
3. Meningkatkan diri dengan berbagai macam pengetahuan (seminar, pelatihan, buku parenting dan agama)
4. Setelah semua upaya —> DOA.
Jujur, pas pada saat mengikuti seminar tersebut, beberapa kali, saya menitikkan airmata – mbrebes mili. Betapa saya merinding hebat dan pengen segera pulang memeluk anak-anak saya.
Semoga saya bukan salah satu orangtua yang pingsan itu. Semoga anak-anak kita, menjadi anak-anak yang sholeh dan selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa Amin…aminn..Ya robbal alamin…
Mohon maaf jika kurang berkenan.
(source: http://irrasistible.  wordpress.com/2011/01/26 sharing-seminar-bu-elly/)