Informasi yang kamu cari

Tampilkan postingan dengan label Budaya dan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya dan Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2015

Islam Nusantara

Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu. Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik. Kalau saja Wali Songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini.
Inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini dan mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.
Indonesia itu tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua. Intinya cuma satu: MEMECAH BELAH NKRI.
Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk. Ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkret. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet.
Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada aqidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya Arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.
Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN)/ IslamNUsantara.
Selengkapnya: http://www.elhooda.net/2015/07/
habib-luthfi-islam-nusantara-tetap-berpijak-pada-aqidah-tauhid-yang-dibawa-rasulullah/
# MuktamarNU # IslamNUsantara

Senin, 23 Februari 2015

Nu, Muhammadiyah, Salafy, Parpol Islam & Jamaah Tabligh

Dapat dari grup, sebuah Renungan untuk kita semua:
.
Saya pernah ditanya oleh seorang aktivis MMI, Ustad Abdullah namanya.
.
"Manakah kelompok yang lebih baik diantara umat Islam, Salafy yang berjuang dgn fokus Tholabul Ilmi, atau Jamaah Tabligh yg menyeru orang utk sholat di Masjid, atau Hizbut Tahrir yg memperjuangkan Kekhalifahan, atau PKS yg berjuang di Parlemen, atau NU yg Islam kultural, atau Muhammadyah yg berjuang di sektor pendidikan"? begitu tanyanya kpd saya.
.
Saya menjawab, "Akhi kalo antum bertanya spt itu pd saya, maka sama saja antum menanyakan manakah yang lebih baik, apakah tangan lebih baik dari kaki, apakah mata lebih baik dari pada mulut, apakah telinga lebih baik dari pada hidung?"
.
Bukankah Rasulullah SAW mengatakan bahwa umat islam itu spt satu tubuh.
.
Bila satu anggota tubuh merasakan sakit maka yg lain juga ikut merasakan sakit.
.
Perumpamaan ini saya pikir juga pas utk menjawab pertanyaan antum.
.
Seperti anggota tubuh, umat islam ini diberi ilham oleh Allah SWT utk cenderung fokus menjalankan fungsi yang berbeda beda shg mereka punya medan jihad yg berbeda pula.
.
Namun sayangnya sebagian umat Islam ini ada yg membanggakan kelompoknya masing2 dan lupa bahwa sebenarnya mereka adalah satu tubuh.
.
Logikanya kalo satu tubuh, mana mungkin tangan kanan itu memukul tangan kirinya, mana mungkin kaki kiri menendang kaki kanannya.
.
Kalaupun ada anggota tubuh itu merugikan tubuh yang lain, yaa itu namanya Kanker yang harus diamputasi dibuang dari tubuh.
.
Anggota tubuh itu selayaknya saling bekerja sama. .
Coba kalo mulut mau makan, kan tangan yg mengambil makanan. .
Lihat kalau antum mau ambil barang yang tinggi letaknya, kan kaki yang melompat supaya tangannya sampai.

Bukankah indah kalo kita saling melengkapi kalo saja Jamaah Tabligh yg mengetuk pintu org2 utk sholat berjamaah di Masjid, lalu di Masjid ada kajian Salafynya lalu umat islam diajak membangun kekuatan baik dibidang pendidikan bersama Muhammadyah, bidang budaya bersama NU, bidang Politik bersama koalisi kompak partai2 Islam menghasilkan undang2 yg islami dan pemimpin yang amanah agar umat Islam dipercaya memimpin dinegeri ini menyongsong Kekhalifahan Imam Mahdi yang pasti akan datangnya spt yg disosialisasikan Hizbut Tahrir.
.
Umat islam ini seperti sebuah Puzzle yang kalo digabungkan bagian demi bagiannya maka barulah menjadi satu gambaran yang utuh dan saling melengkapi.... Ustad Abdullah pun tersenyum lebar dan berkata "benar sekali akhi.."
.
Allahu a'lam
Source: IG @santribackpacker

Apa pendapatmu?

Senin, 22 Desember 2014

PENTINGNYA JURU KUNCI (KUNCEN) DIKALANGAN MASYARAKAT JAWA

PROLOG
Kraton Yogyakarta sesungguhnya memiliki banyak juru kunci, namun demikian harus diakui bahwa yang paling fenomenal hingga saat ini adalah Mbah Maridjan, abdi dalem yang di baptis bin di bai’at  sebagai juru kunci Gunung Merapi sejak tahun 1982 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Sebagai sebuah Kraton yang dibangun berdasarkan sumbu imajiner nan filosofis, Yogyakarta memilik tiga titik utama yang tak terpisahkan, yakni Gunung Merapi, Kraton dan terakhir Pantai Selatan. Itu artinya, satu tokoh kunci penting lain masih hidup  hingga sekarang.  Siapakah dia ? Tak lain adalah Juru kunci yang mengemban amanat tradisi kraton dengan area wilayah laut selatan.
Syahdan, jika Gunung Merapi di huni oleh tokoh gaib raja raksasa api bernama Eyang Mrapen a.k.a Mbah Petruk, maka tokoh gaib yang ada di laut selatan sudah tidak asing lagi bagi kita : Kanjeng Ratu Kidul ( meski yang lebih populer sesungguhnya justru wakilnya sendiri (Patih) yang bernama Nyai Roro Kidul )
Dalam kacamata kebatinan Jawa, sesungguhnya almarhum Mbah Maridjan selama ini bukan menyembah gunung seperti yang di plintir oleh kaum radikal anti tradisi, namun melakukan dialog dalam versi kebatinan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang super pasrah, polos dan tulus  macam Mbah Maridjan terhadap sesuatu yang tak kasat mata.  Menyembah, dalam tradisi jawa artinya memberi hormat. Hal ini jelas tidak ada hubungannya dengan memuliakan. Mungkin kita semua sepakat, bahwa memberi hormat merupakan kebiasaan yang baik untuk dilakukan.
Dalam tradisi Kraton Yogya, setiap abdi dalem yang mengemban tugas sebagai juru kunci biasanya diberi gelar  “Surakso” yang berarti : Penjaga. Sebagai contoh, nama aslinya adalah Maridjan, namun setelah diangkat sebagai juru kunci namanya berubah menjadi  Raden Penewu Surakso Hargo. “Raden Mas Ngabehi Penewu” merujuk pada nama kebangsawan kraton, “Surakso” merujuk pada fungsi kerja, “Hargo” merujuk pada obyek kerja. Hargo dalam bahasa jawa artinya ” Gunung”.
” Kenapa harus ada Penjaga Gunung ? ” . Bagaimana kalau pertanyaan ini kita persamakan dengan ” kenapa harus ada pencinta alam ? “. Dulu sering sekali kaum radikal anti tradisi sering nyinyir mengolok-olok teman-teman pecinta alam dengan kata-kata konyol  ” alam kok dicintai, cinta tuh pada Allah, jangan cinta sama alam ! ” Di tahun 60-an,  Soe Hok Gie dan komunitas Mapalanya sangat kenyang dengan olok-olok macam ini.  Beruntung kawan-kawan komunitas Pecinta Alam hingga saat ini tidak terlalu menggubris cibiran-cibiran kurang berpendidikan seperti itu sehingga tugas melindungi alam dari kehancuran domestik manusia tetap ada yang menjalankannya.
Tugas mbah maridjan dan juru kunci lain tak beda jauh dengan apa yang dilakukan para pecinta alam sekarang.  Mbah Maridjan dalam sebuah tayangan TV mengakui bahwa tugasnya adalah tukang sapu gunung. Membersihkan sekitar gunung Merapi dari sampah-sampah yang dibuat para pengunjung secara tidak bertanggung jawab.  Selain tugas fisik, tugas spiritualnya adalah sebagai wakil kraton yogya dalam menjalin komunikasi batin dengan seluruh energi dan unsur tak kasat mata yang melingkupi area gunung merapi. Tentu saja komunikasi batin yang dilakukan menggunakan cara-cara jawa, (bukan cara-cara cina atau cara-cara afrika).
Kini, sepeninggal Mbah Maridjan, juru kunci pantai selatan seakan merasa timpang sebelah. Sumbu imajiner Yogyakarta seakan begitu berat di topang meski sama sekali tak mengurangi militansinya mengemban amanah. Beliau memang tak sepopuler Mbah Maridjan meski gaji bulanan yang diterimanya dari Kraton sama dengan rekan sejawatnya itu yakni :dibawah sepuluh ribu rupiah. RADEN  PENEWU SURAKSO TARWONO atau yang biasa dipanggil akrab MBAH NONO agaknya punya watak pengabdian yang tak jauh berbeda dengan Mbah Maridjan.  Selama perintah belum dicabut oleh almarhum Sri Sultan HB IX, mbah Nono tak akan pernah berpindah dari pos penjagaannya walau badai dan tsunami besar menghantam dahsyat.

Mengenai keberadaan juru kunci, utamanya yang berada dikalangan masyarakat jawa, memang banyak menimbulkan pro dan kontra. Pihak yang kontra atau kurang setuju dengan adanya kuncen ini biasanya beralasan karena praktik-praktik para kuncen ini yang kelihatan tidak sejalan dengan ajaran atau nilai-nilai dalam Agama Islam. Kita bisa melihat bagaimana para kuncen –dalam prosesi doa/acara mereka- mempersembahkan ayam atau kepala kambing dan kerbau yang ditujukan pada penguasa tempat yang mereka jaga (gunung, laut, pemakaman dsb.), tak lupa kemenyan dibakar yang menambah sakral keadaan saat upacara berlangsung, ditemani kembang tujuh rupa, doa-doa dalam bahasa jawa pun mulai dilantunkan. Si kuncen (juru kunci) dan warga pengikutnya berharap, dengan upacara dan persembahan yang mereka berikan, sang penguasa dari alam lain (jin, siluman, demit) tempat itu tidak akan ngamuk dan menjatuhkan celaka pada mereka. Terkadang pada bulan-bulan tertentu, mereka juga menggelar acara-acara khusus seperti upacara panen, ruatan dan lain-lain di tempat-tempat yang mereka anggap sakral. Dalam upacara-upacara seperti ini pun, sang juru kunci wajib diikut sertakan. Nah, hal-hal semacam ini memang dikhawatirkan oleh sebagian ulama dapat menjurus pada kesyirikan, karena masyarakat seperti ini terkesan menyembah dan meminta keselamatan pada selain Allah. Sedangkan Islam hanya percaya pada satu Illah, dan hanya Allah lah yang kuasa memberi manfaat ataupun menjatuhkan kemudaratan pada sekalian makhluk.
Pendapat yang mendukung kegiatan para kuncen, biasanya datang dari kalangan budayawan, penggiat HAM ataupun para ulama yang lebih liberal. Mereka menganggap apa yang dilakukan oleh  para kuncen adalah bagian dari budaya dan kearifan lokal yang harus dilestarikan. Selain itu, tidak dapat kita pungkiri peran dari seorang juru kunci di tengah masyarakat jawa yang terus berkembang sangatlah penting. Kata-kata mereka dipercaya dan dituruti oleh masyarakat, sehingga segala larangan dan anjuran mereka biasanya akan menjadi semacam aturan tidak tertulis di antara masyarakat setempat. Hal ini terbukti sangat efektif untuk mencegah terjadinya kerusakan pada tempat-tempat yang mereka jaga. Seperti pencemaran sungai, perambahan hutan dan pencurian benda-benda bersejarah. Masyarakat jawa mayoritas masih percaya dengan mitologi-mitologi yang diceritakan oleh juru kunci. Misalnya seorang juru kunci berkata agar di daerah itu tidak boleh menebang pohon atau tidak boleh berkata kotor, maka orang-orang yang percaya tidak akan berani melakukan hal-hal semacam itu karena takut terkena kesusahan atau kesialan.
Kalau kita lihat memang tradisi yang dijalankan para kuncen ini masih dipengaruhi secara kuat oleh budaya-budaya sebelum Islam. Meski bisa dikatakan mayoritas juru kunci di tanah Jawa adalah muslim. Tapi mengapa para Wali Sembilan (wali songo) sebagai penyebar Islam di tanah Jawa tidak melarang (membiarkan) kegiatan para kuncen ini? Apakah dalam agama Islam tidak ada doa penolak bala yang bisa dilafalkan oleh para juru kunci?
Pada awal mula penyebaran Islam, perubahan kebiasaan atau tradisi-trsdisi lama tidak dapat dirubah secara cepat, karena bisa menimbulkan ketegangan dan pertentangan. Para wali songo lebih banyak menyuntikan nilai dan tradisi Islami kedalam tradisi setempat yang sudah ada agar dapat terjadi akulturasi. Pada awal  masuknya Islam, pembangunan kesadaran beragama lebih diutamakan. Yang jelas akulturasi ini menunjukan keberhasilan yang nyata, terbukti dengan diterimanya Islam dengan perdamaian hingga saat ini. Di dalam ajaran agama Islam pun banyak sekali doa yang diajarkan Rasulullah ataupun ciptaan dari para ulama, namun masuknya juru kuncen pada Agama Islam masih lebih dipentingkan dari pada memaksaan doa secara Islami namun hanya menimbulkan kebencian dan permusuhan.
Pada konteks kekinian, kiranya peran juru kunci dikalangan masyarakat Jawa memang tidak dapat digeser. Mengingat banyak peran penting yang diemban oleh seorang juru kunci. Yang perlu diluruskan adalah praktek/cara ia berdoa dan tata cara ia menggelar upacara. Umat harus disadarkan bahwa hal-hal yang menjurus pada kesyirikan haruslah ditinggalkan. Boleh saja mereka menggelar upacara-upacara tertentu bersama juru kunci tapi itu sebatas upacara kebudayaan dan tidak boleh dibumbui dengan keyakinan-keyakinan pada selain Allah. Inilah tugas para ulama masa kini. Di zaman wali songo telah diletakan dasar-dasar ke Islaman, ulama sekarang tinggal mengembangkan dan menyempurnakan saja. Tentunya butuh waktu cukup panjang untuk mereproduksi budaya yang telah melekat ditengah masyarakat, namun seiring dengan kegigihan dan waktu yang terus berjalan, hal ini sangatlah mungkin untuk dilakukan.

Oleh                            : Ahmad Kopi