Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu. Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik. Kalau saja Wali Songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini.
Inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini dan mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.
Indonesia itu tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua. Intinya cuma satu: MEMECAH BELAH NKRI.
Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk. Ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkret. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet.
Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada aqidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya Arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.
Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN)/ IslamNUsantara.
Selengkapnya: http://www.elhooda.net/2015/07/
habib-luthfi-islam-nusantara-tetap-berpijak-pada-aqidah-tauhid-yang-dibawa-rasulullah/
# MuktamarNU # IslamNUsantara
Informasi yang kamu cari
Sabtu, 01 Agustus 2015
Islam Nusantara
Senin, 23 Februari 2015
Nu, Muhammadiyah, Salafy, Parpol Islam & Jamaah Tabligh
Dapat dari grup, sebuah Renungan untuk kita semua:
.
Saya pernah ditanya oleh seorang aktivis MMI, Ustad Abdullah namanya.
.
"Manakah kelompok yang lebih baik diantara umat Islam, Salafy yang berjuang dgn fokus Tholabul Ilmi, atau Jamaah Tabligh yg menyeru orang utk sholat di Masjid, atau Hizbut Tahrir yg memperjuangkan Kekhalifahan, atau PKS yg berjuang di Parlemen, atau NU yg Islam kultural, atau Muhammadyah yg berjuang di sektor pendidikan"? begitu tanyanya kpd saya.
.
Saya menjawab, "Akhi kalo antum bertanya spt itu pd saya, maka sama saja antum menanyakan manakah yang lebih baik, apakah tangan lebih baik dari kaki, apakah mata lebih baik dari pada mulut, apakah telinga lebih baik dari pada hidung?"
.
Bukankah Rasulullah SAW mengatakan bahwa umat islam itu spt satu tubuh.
.
Bila satu anggota tubuh merasakan sakit maka yg lain juga ikut merasakan sakit.
.
Perumpamaan ini saya pikir juga pas utk menjawab pertanyaan antum.
.
Seperti anggota tubuh, umat islam ini diberi ilham oleh Allah SWT utk cenderung fokus menjalankan fungsi yang berbeda beda shg mereka punya medan jihad yg berbeda pula.
.
Namun sayangnya sebagian umat Islam ini ada yg membanggakan kelompoknya masing2 dan lupa bahwa sebenarnya mereka adalah satu tubuh.
.
Logikanya kalo satu tubuh, mana mungkin tangan kanan itu memukul tangan kirinya, mana mungkin kaki kiri menendang kaki kanannya.
.
Kalaupun ada anggota tubuh itu merugikan tubuh yang lain, yaa itu namanya Kanker yang harus diamputasi dibuang dari tubuh.
.
Anggota tubuh itu selayaknya saling bekerja sama. .
Coba kalo mulut mau makan, kan tangan yg mengambil makanan. .
Lihat kalau antum mau ambil barang yang tinggi letaknya, kan kaki yang melompat supaya tangannya sampai.
Bukankah indah kalo kita saling melengkapi kalo saja Jamaah Tabligh yg mengetuk pintu org2 utk sholat berjamaah di Masjid, lalu di Masjid ada kajian Salafynya lalu umat islam diajak membangun kekuatan baik dibidang pendidikan bersama Muhammadyah, bidang budaya bersama NU, bidang Politik bersama koalisi kompak partai2 Islam menghasilkan undang2 yg islami dan pemimpin yang amanah agar umat Islam dipercaya memimpin dinegeri ini menyongsong Kekhalifahan Imam Mahdi yang pasti akan datangnya spt yg disosialisasikan Hizbut Tahrir.
.
Umat islam ini seperti sebuah Puzzle yang kalo digabungkan bagian demi bagiannya maka barulah menjadi satu gambaran yang utuh dan saling melengkapi.... Ustad Abdullah pun tersenyum lebar dan berkata "benar sekali akhi.."
.
Allahu a'lam
Source: IG @santribackpacker
Apa pendapatmu?
