Informasi yang kamu cari

Tampilkan postingan dengan label Mahabbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahabbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015

Istri, Surga atau Neraka Suami?

Izin share lgi yaa smoga brmanfaat...��
#Watak Istri Mempengaruhi Suami Dalam Mencari Nafkah#
Hasan al-Bashri berkata:
“Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain.”
2 tahun setelah itu aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah, Lalu aku tanya kepadanya:”Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?”Ia menjawab : “Iya benar”Aku bertanya lagi:”Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!”Ia pun bercerita:”Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit.
Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata:’Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). Jika engkau datang dengan sedikit rezeki, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain)’.”Masya Allah…Milikilah sifat Qana’ah -suka menerima- / jiwa selalu merasa cukup.Biasanya Wanita (Istri) sering TERJEBAK pd KEINGINANnya tuk terlihat Cantik dgn Pakaian yg Serba Mahal.Janganlah menjadi jurang dosa bagi Suamimu.
Wanita shalihah akan mendorong Suaminya kpd kebaikan,keta’atan sedangkan wanita kufur akan menjadi pendorong bagi suaminya untuk berbuat dosa,kemakshiatan.CUKUPKAN DIRI DGN YG HALAL&BAIK. Ukuran Rizki itu terletak pada keberkahannya, bukan pada jumlahnya. wanita sholihah itu yang bisa memberikan ketentraman lahir batin suaminya juga pada putra putrinya. Ciptakan suasana rumah  sebagai pendahuluan surga.
[Kitab al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan

Rabu, 14 Januari 2015

Kisah Keteladanan al-Habib Hasan bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri



1.      Keringatmu Diperhitungkan

Pernah suatu ketika tatkala al-Habib Hasan bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri, ulama besar asal Yaman, diminta untuk mengajar di Masjidil Haram oleh Raja Faisal. Habib Hasan punya banyak murid di Mekkah, maka datanglah beliau namun tidak langsung mengajar. Beliau berkata: “Sebelum mengajar, aku ingin berdagang. Tapi aku tidak punya uang.”

Maka berebutanlah para muridnya datang membawa uang untuk diberikan kepada sang guru secara ikhlas (cuma-cuma). Namun Habib Hasan malah menolaknya, dengan halus beliau berkata: “Aku tidak meminta, tetapi aku ingin berhutang.” Maka para muridnya pun memberikan uang itu kepada sang guru sebagai hutangan, demi mengharap keberkahan darinya.

Esoknya datang para pembesar Mekkah menjemput beliau. Lalu mereka berkata:“Wahai Habib, jika engkau ingin berdagang maka Raja pun bisa memberimu Pasar!”

Tak dinyana, Habib Hasan asy-Syathiri malah menjawab: “Ketahuilah bahwa banyak dosa yang rontok karena keringat yang menetes ketika seseorang bekerja.”

2.      Jangan Dimarahi, Tapi Dirahmati

Habib Hasan bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri adalah Pengasuh Rubath Tarim yang sangat terkenal dan dihormati di kota Tarim, Hadhramaut. Suatu ketika, beliau berkunjung ke Singapura dan menginap di salah satu hotel. Ketika murid beliau sedang mengurus check-in, beliau duduk di salah satu sofa yang ada di lobby hotel.

Tiba-tiba duduk di hadapan beliau sepasang kekasih bule. Mereka tak henti-hentinya berciuman dan berpelukan di hadapan sang habib. Habib Hasan hanya menunduk. Rata-rata orang Hadhramaut tak biasa memandang perempuan yang bukan mahramnya, apalagi dalam adegan mesra.

Setelah urusan check-in selesai, Habib Hasan dipersilakan oleh murid-muridnya untuk memasuki lift yang akan membawa ke lantai kamar. Tak disangka, kedua kekasih itu ikut masuk ke dalam lift dan meneruskan percumbuannya. Murid-murid Habib Hasan pun marah dan bermaksud menegur sepasang kekasih tadi karena berbuat yang tidak senonoh di hadapan seorang ulama besar.

Namun Habib Hasan justru melarang murid-muridnya untuk menegur mereka. Beliau tetap menunduk dan kemudian membaca doa. Doa beliau sebagaimana yang masyhur dari Imam Abu Hanifah:

اللهم كما فرحتهما في الدنيا ففرحهما في الاخرة

“Allahumma kama farahtahuma fiddunya, fafarrihhuma fil akhirah.” (Ya Allah, seperti Engkau beri kebahagiaan pada mereka berdua (sepasang kekasih itu) di dunia, bahagiakanlah mereka di akhirat).

Begitulah akhlaq ulama-ulama besar kita. Mereka tidak reaktif dan membabi buta. Rasa kasih sayang didahulukan dari kemarahan. Keinginan Habib Hasan adalah agar keduanya berbahagia di akhirat kelak, seperti kebahagiaan mereka bercumbu dan bercinta di dunia. (Sumber cerita: Habib Ismail Fajrie Alattas).

Sya’roni As-Samfuriy, Bandung 29 Oktober 2014
Source: http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/10/dua-kisah-menyentuh-habib-hasan-asy.html

BANGSA INDONESIA ADALAH BANGSA YANG DICINTAI RASULULLAH SAW.





Tatkala Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah Saw., tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah Swt. dapat jumpa dengan Nabi Saw. Di belakang Nabi Muhammad Saw. sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh as-Sayyid Muhammad al-Maliki: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”

Rasulullah Saw. pun menjawab: “Mereka adalah ummatku yang sangat aku cintai.”

Dan diantara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya. Lalu as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”

Rasulullah Saw. kemudian menjawab: “Mereka adalah Bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.”

Akhirnya as-Sayyid Muhammad al-Maliki menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jamaah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.” (Dikutip dari ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi)

Diedit ulang oleh: Sya'roni As Samfuriy, Cilangkap Jatim 28 Februari 2014

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=585154348241908

Source: http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/02/bangsa-indonesia-adalah-bangsa-yang.html